Kamis, 22 Januari 2009

Pemkab Tengahi Sengkarut PT Parna Agro Mas

Hermanus Hartono
Borneo Tribune, Sekadau

Ratusan warga dari Desa Tapang Pulau Kecamatan Belitang Hilir Kabupaten Sekadau memadati gedung pertemuan kecamatan baru-baru ini. Kedatangan warga tersebut, hendak merundingkan solusi dari penantian atas lahan sertifikat milik masyarakat yang sekarang sudah ditumbuhi pohon kelapa sawit. Areal perkebunan yang dikelola oleh PT Parna Agro Mas dahulunya lahan tersebut dikelola oleh PT Patriot Andalas.
Persoalan warga menuntut pola yang kemudian ditawarkan pihak perusahaan dengan uang tunggu dan disetujui hingga bulan Desember. Tetapi dalam perjalanannya, pola yang ditawarkan ini, tidak masuk di masyarakat.
Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain, Bupati Sekadau, Simon Petrus, S.Sos. MSi, beserta kepala dinas kehutanan, perkebunan dan pertambangan Ir. Ahmad Yani, MP serta dari pihak BPN Kabupaten Sekadau, Muspida dan Muspika, para petani dan tokoh masyarakat setempat.
Tiga opsi penyelesaian lahan sertifikat yang ditawarkan oleh PT Parna Agro Mas rencananya bulan Januari 2009 mendatang, hal ini berdasarkan hasil analisis, yaitu, opsi bagi hasil dan bagi fisik, tetapi belum ada hasil dan tidak layak dilaksanakan, dan ketiga opsi sewa lahan, sewa lahan selama 20 tahun, terhitung sejak januari 2009 hingga januari 2029.
Uang sewa dibayar tiap tiga bulan sekali, dan dibayar dimuka. Petani tidak dibebeani oleh hutang, semua resiko ditanggung oleh pihak perusahaan. Demikian ujar General Manager (GM) PT Parna Agromas Suharto Sitanggang.
Lanjut Sitanggang, perusahaan tidak mencari keuntungan dari lahan sertifikat dan lahan adat, tetapi wajib menyelesaikan masalah yang ditinggalkan oleh PT Patriot Andalas, tanpa harus merugikan masyarakat. "Permasalahan ini seharusnya tidak perlu sampai ke kabupaten. Persoalan ini harusnya bisa diselesaikan di kecamatan," ungkap Camat Belitang Hilir Abang M. Saleh, S.Sos.
Saat tiba mendengarkan penyampaian dari pihak warga yang hadir Kepala Desa Tapang Pulau, Urbanus Darwin memulai pembicaraan mengatakan, permasalahan ini sudah sering disampaikan, bahkan hingga ke DPRD, serta pihak perusahaan. Malahan saya sempat dulunya diusir oleh Irwan Saragih ketika menjabat sebagai GM di PT. Parna. "Pada saat saya menanyakan lahan sertifikat itu, saya sempat diusir oleh pihak perusahaan. Saat diusir itu saya masih menjadi warga biasa, belum menjadi kades," ungkapnya.
Da, sapaan akrab Kades Tapang Pulau juga membeberkan dua opsi yang ditawarkan pihak perusahaan dinilainya sangat sulit diterima oleh warga, mengenai bagi hasil dan bagi fisik. "Kalau opsi ketiga mengenai sewa mungkin bisa diterima oleh warga mengingat krisis global yang terjadi sekarang, mohon ditampung kembali untuk bekerja warga yang sudah tidak berdaya dengan keadaan yang ada, sebagai penoreh karet," pintanya.
Pada Tanggal 23 Desember 2004 lalu, serahterima fisik di gedung ini, antara pihak PT Patriot Andalas dengan Pihak PT Parna Agro Mas, yang dihadiri oleh Bupati Sekadau. Pola yang dianut pihak PT Parna secara hukum itu mengacu pada pola yang dahulunya digunakan pihak PT Patiot Andalas.
Irwan Saragih selaku mantan GM PT Parna Agro Mas menjelaskan pola yang dikembangkan tujuh setengah, dimana lima untuk inti, dua untuk plasma, dan 0,5 untuk prasarana. "Persoalan ini hanya masalah teknis dan masalah ini akan ditangani oleh tim terkait. Ini akan diurus oleh tim terkait," janji Bupati Sekadau Simon Petrus, dalam menyikapi masalah tersebut.
Pertemuan tersebut oleh masyarakat belum dianggap selesai. Namun mengingat warga yang hadir harus kembali ke rumah masing-masing dan berjarak cukup jauh. Pada dasarnya, Pemkab Sekadau sangat respon terhadap keluhan warga dan perusahaan agar masalah ini secepatnya terselesaikan. "Kita tidak akan kemana-mana, sampai persoalan ini selesai. Besok kita akan lanjutkan lagi dengan tim terkait," jelas Simon lagi.□

3 komentar:

  1. parna agromas tidak akan menyelesaikan permasalahannya buktinya sekarang dijual lagi kepada perusahaan terbesar yaitu LG yang menurutnya baru terjun ke dunia persawitan, dimana sebelumnya adalah elektronik.
    1 februari ada rapat yang bertemakan perkenalan (ucapan didepan masyarakat). bukankah sebaiknya kata itu diganti dengan sosialisasi? tapi untuk mengelabui masyarakat sajalah menurut saya kata itu.Masyarakat yang hadir tampaknya sengaja diatur yaitu kebanyakan bahkan dapat dikatakan 90%karyawan, hal itu agar mempermudah menjawab pertanyaan pemerintah jika diungkit kemudian hari.Mengapa saya katakan hal itu diseting? karena undangan yang disebarkan hanya kepada perangkat pemerintah dan desa sementara masyarakat pemilik lahan sertifikat yang selama ini menuntut haknya datang hanya karena mendengar isu. Masyarakatpun tidak diperbolehkan bicara, hanya perangkat2 itu saja yang vbicara. Lalu pemilik tanah yang sebenarnya hanya D4MP(datang,duduk,dengar,diam, makan dan pulang) hal itu dianggap setuju apabila diungkit dikemudiabn hari. Menurut saya ada niat yang tidak baik dari semua itu!!!! atau menurut anda apalah kata kata yang cocok untuk menebasnya?

    BalasHapus
  2. tolong para wartawan dapat mengungkit misteri perusahaan ini yang beralamat di desa Tapang pulau, kecamatan belitang hilir kabupaten sekadau. propinsi kalimantan barat. INDONESIA.

    SATU INFORMASI TERPENTING ADALAH PETA HGU perusahaan mengenai permukiman atau rumah masyarakat kalau tidak salah ada lima desa yang terkena.

    BalasHapus
  3. jika benar dugaan HGU tumpang tindih dengan 5 desa, itu jelas cacad hukum dan tidak ada alasannya dipertahankan dengan negosiasi dan kompromi sebelum hukum ditegakan dengan adil dan bijaksana [tanpa korupsi dan kolusi atau money politik]. Salam

    BalasHapus

About Me

Foto Saya
Sekadau, Kalimantan Barat, Indonesia
Adalah Bupati Kabupaten Sekadau periode 2005-2010 hasil pemilihan langsung oleh rakyat Kabupaten Sekadau, berpasangan dengan Abun Ediyanto, SE, MM. Jabatan lain sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Sekadau.
Loading...

Blog Archive